Warga Muara Cuban Blokade Jalan, Usir PETI: “Desa Kami Bukan Ladang Tambang Ilegal!”

SAROLANGUN – Kesabaran warga Dusun Muara Cuban, Kecamatan Batang Asai, akhirnya pecah. Senin (23/2/2026), puluhan warga turun langsung menutup akses jalan menuju lokasi bongkar muat minyak yang diduga kuat menjadi penunjang aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di Desa Muara Cuban.

Dengan membawa karton bertuliskan penolakan keras seperti “Tutup Tambang Emas Ilegal, Jalan Kami Hancur!” dan “Desa Kami Desa Wisata, Bukan Desa PETI!!!”, warga menyatakan sikap: aktivitas ilegal harus dihentikan.

Tak sekadar protes, warga memasang pagar kawat di pintu masuk jalan yang biasa dilalui alat berat jenis excavator. Aksi ini memicu ketegangan. Sejumlah pihak yang diduga pemain PETI menolak penutupan jalan hingga nyaris terjadi baku hantam. Beruntung, tokoh masyarakat segera turun tangan meredam situasi sebelum bentrokan terjadi.

Sukarni (45), warga setempat, menegaskan bahwa kerusakan jalan sudah pada titik parah dan tak bisa lagi ditoleransi.

“Jalan desa kami hancur total. Ini akses utama masyarakat untuk bekerja, sekolah, dan berdagang. Sekarang nyaris tak bisa dilewati,” tegasnya.

Ia menyebut, setiap hari alat berat dan mobil pengangkut minyak dengan muatan melebihi kapasitas melintasi jalan desa tanpa memikirkan dampaknya. Ironisnya, para pelaku PETI disebut tak mau bertanggung jawab atas kerusakan yang ditimbulkan.

“Yang merusak jelas excavator dan mobil minyak mereka. Tapi saat diminta tanggung jawab, seolah lepas tangan,” ujarnya geram.

Dampak lainnya, Desa Muara Cuban yang sebelumnya dikenal sebagai desa wisata kini terancam kehilangan daya tarik. Wisatawan mulai membatalkan kunjungan akibat jalan rusak dan aktivitas tambang ilegal yang mencolok.

Tak hanya itu, warga juga mengeluhkan kondisi air yang berubah keruh dan berlumpur, serta terganggunya keharmonisan sosial di tengah masyarakat akibat pro dan kontra aktivitas PETI.

Warga bahkan mempertanyakan keseriusan aparat penegak hukum (APH) dalam menindak aktivitas ilegal tersebut. Mereka menduga adanya pembiaran yang membuat PETI semakin berani beroperasi.

“Kami sempat tanya ke salah satu pemilik PETI. Mereka bilang alat masuk karena sudah ada yang ‘mengatur’ perjalanan lewat desa. Kalau begitu, siapa yang sebenarnya bermain?” ungkap seorang warga.

Aksi blokade ini menjadi peringatan keras: masyarakat Muara Cuban menolak wilayahnya dijadikan lintasan dan basis aktivitas tambang ilegal. Jika tak segera ditindak, konflik horizontal dikhawatirkan semakin melebar.

Warga menegaskan, mereka tidak anti investasi atau pembangunan, tetapi menolak keras aktivitas ilegal yang merusak jalan, lingkungan, dan masa depan desa mereka. (Ocep)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *