MURATARA, Minggu (26/7/2026) — Malam perayaan HUT ke-13 Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara) berubah menjadi lautan manusia. Lapangan Silampari, Muara Rupit, dipadati ribuan masyarakat yang datang bukan hanya untuk menikmati hiburan, tetapi juga menjadi saksi kebangkitan budaya lokal melalui pemutaran film Kecak Palak.
Di bawah langit malam, layar besar yang membentang di tengah lapangan seolah membawa masyarakat Muratara kembali menelusuri jejak cerita, budaya, dan ingatan masa lalu. Tawa, antusiasme, hingga tepuk tangan penonton pecah silih berganti saat film karya kolaborasi CLASICLIMPO Art Productions bersama Dinas Pendidikan Kabupaten Musi Rawas Utara itu diputar.
Malam itu, Kecak Palak bukan sekadar tontonan.
Ia menjadi pertemuan antara masyarakat dengan identitas budayanya sendiri.
Pimpinan CLASICLIMPO Art Productions, Rido Amilin, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung kegiatan tersebut.
“Kesuksesan malam ini tidak lepas dari sinergi kita bersama. Terima kasih sebesar-besarnya kepada Kelurahan Muara Rupit, Camat Rupit Bapak Febri Mashudi Pranata, S.E. beserta Ibu PKK Kecamatan Rupit, dan seluruh masyarakat Muratara yang luar biasa memenuhi Lapangan Silampari,” ujar Rido.
Menurutnya, kebudayaan harus hadir di tengah masyarakat dan dapat dinikmati oleh siapa saja.
“Kebudayaan adalah ruang publik yang berhak dinikmati oleh semua orang. Di ruang inilah orang berkumpul, bergembira, dan merayakan identitasnya,” katanya.
Lebih dari sekadar hiburan, Rido meyakini film dan karya seni memiliki kekuatan untuk menghidupkan kembali memori kolektif masyarakat.
Setiap adegan, cerita, dan tokoh dalam karya budaya dapat menjadi jembatan yang menghubungkan generasi hari ini dengan warisan masa lalu.
“Setiap manusia memiliki ruang tersendiri dalam menyimpan memori emosional tentang kenangan masa lalu. Sentuhan emosional itu salah satunya akan sangat kental terasa pada kisah Bujang Kurap,” tambahnya.
Sebagai guru sekaligus pegiat seni, Rido menegaskan bahwa CLASICLIMPO Art Productions tidak ingin berhenti pada satu karya. Komitmen untuk menghidupkan dan merawat budaya lokal akan terus dilanjutkan.
“Kami akan terus berbuat untuk masyarakat agar kebudayaan ini tetap tumbuh, hidup, dan pada akhirnya membentuk kita menjadi manusia Melayu seutuhnya,” tegasnya.
Semangat tersebut mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Kabupaten Musi Rawas Utara melalui Dinas Pendidikan.
Kepala Dinas Pendidikan Muratara menegaskan, pemerintah daerah akan terus membuka ruang dan memberikan dukungan terhadap karya-karya kreatif, terutama yang lahir dari para guru dan insan pendidikan.
“Dinas Pendidikan selalu dan akan terus mendukung karya-karya terbaik, terlebih yang diinisiasi oleh para guru serta seluruh stakeholder pendidikan di wilayah kita,” ujarnya.
Antusiasme masyarakat yang begitu besar terhadap Kecak Palak bahkan membuka jalan bagi proyek kebudayaan yang lebih besar.
Dinas Pendidikan Muratara bersama CLASICLIMPO Art Productions memastikan film Bujang Kurap akan menjadi karya berikutnya yang tengah dipersiapkan.
“Kami telah berkoordinasi secara intensif dengan Bapak Rido Amilin dan tim CLASICLIMPO Art Productions. Kami pastikan, proyek besar selanjutnya setelah ini adalah penggarapan film Bujang Kurap,” ungkapnya.
Malam itu, Lapangan Silampari bukan hanya menjadi tempat perayaan ulang tahun daerah.
Ia berubah menjadi panggung kebangkitan budaya.
Dari Kecak Palak, Muratara menunjukkan bahwa budaya lokal tidak harus tinggal sebagai cerita masa lalu. Dengan kreativitas, kolaborasi, dan dukungan pemerintah, budaya dapat kembali hidup, ditonton, dirasakan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Kini, setelah Kecak Palak sukses menghidupkan malam HUT ke-13 Muratara, publik mulai menanti satu nama yang kembali menggema:
Bujang Kurap.
Sebuah kisah yang diharapkan bukan hanya menjadi film, tetapi juga menjadi cara baru Muratara merawat ingatan, identitas, dan marwah budaya Melayu.. (Ocep)









